Penangkapan Artis Riza Shahab Karena Kasus Pesta Sabu

Penangkapan Artis Riza Shahab Karena Kasus Pesta Sabu

Penangkapan Artis Riza Shahab Karena Kasus Pesta Sabu

Penangkapan Artis Riza Shahab Karena Kasus Pesta Sabu

Aktor Riza Shahab di tangkap polisi berkaitan sabu. Sabu itu didapat dari bandar yang memanglah umum mengedarkan narkoba ke kelompok artis. Seperti apa sebagian kenyataan penangkapan Riza?

Riza di tangkap selesai pesta sabu di satu apartemen di Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (12/4). Terkecuali Riza, pesinetron Reza Alatas serta empat partnernya juga di tangkap.

(Urine) semua positif metamfetamin serta amfetamin, “Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Metro Jaya AKBP Doni Alexander waktu dihubungi detikcom, Jumat (13/4/2018).

Ke-6 orang itu konsumsi sabu seberat 0, 5 gr, yang dibeli dengan harga Rp 800 ribu. Sabu tidak diketemukan karna telah habis digunakan. Tapi bong, pipet, serta korek diambil alih polisi.

Jati diri bandar yang mensuplai sabu ke Riza serta Reza telah dikantongi polisi. Bandar itu dimaksud memanglah umum mensuplai kelompok artis.

“Dia memanglah umum mensuplai kelompok artis. Masih tetap kita kejar, “katanya.

Riza serta Reza sesungguhnya bukanlah tujuan operasi polisi. Keduanya tertangkap waktu polisi tengah mengintai rekannya bernama Rizka.

“Awalannya anggota memperoleh info orang-orang mengenai penyalahgunaan narkotika yang dikerjakan R, yang tinggal di kos De Villa, Jalan Karet Pedurenan, Kuningan, Jaksel, ” terang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Polisi juga mengintai Rizka di kamar kosnya. “Namun Saudari R ini tidak terlihat di kosannya, “terang Kombes Argo.

Baca Juga: Inilah Yang Membuat Heboh Syahrini Syuting Iklan Bersama Ariel Noah

Setelah itu polisi memperoleh info kalau Rizka berada di Apartemen The Wave, Kuningan, Jaksel, pada Kamis (12/4). Disana, polisi temukan Rizka berjumpa dengan Riza Shahab serta Reza Alatas dan Rastio Eko Fernando berada di lobi hotel. (Waktu di tangkap) ya masih tetap miring-miring, ‘goyang’ gitu, “terangnya.

Reza serta empat rekannya rata-rata konsumsi narkoba mulai sejak 6 bln. kemarin. Polisi mengatakan diantara mereka ada juga yang disebut pengguna baru narkoba. Ada pula yang beberapa cobalah saja, baru sekali serta ada yang beberapa kali sudah dengan kurun saat lebih kurang enam bulanan, tapi tidak setiap saat, “kata Argo.

Argo menjelaskan ke-6 orang itu di tangkap sesudah konsumsi sabu seberat 0, 5 gr. Sabu itu dibeli dari seorang dengan harga Rp 800 ribu. Saat ini Riza dkk melakukan assessment di BNNP DKI. Assessment ini merujuk pada ketentuan yang berlaku. Sebab, dalam penangkapan ke-6 orang itu, tidak diketemukan tanda bukti.

“Serta tidak diketemukan tanda bukti narkotika, dikerjakan assessment. Dari hasil assessment itu, di ketahui apakah rehab rawat jalan atau riskan inap, dasarnya sesuai sama itu, “tutur Argo. Disamping itu, Riza mengakui menyesal. Dia mohon maaf serta berpesan untuk menjauhi narkoba.

“Saya menyesal memakai narkoba. Saya akan tidak sempat memakai sekali lagi, perbuatan itu, karna dapat mengakibatkan kerusakan hidup saya, “tutur Riza terisak di Polda Metro Jaya.

Harus Waspada Modus Baru Transaksi Narkoba Via Bitcoin

Harus Waspada Modus Baru Transaksi Narkoba Via Bitcoin

Harus Waspada Modus Baru Transaksi Narkoba Via Bitcoin

Harus Waspada Modus Baru Transaksi Narkoba Via Bitcoin

Perubahan tehnologi tidak bisa tidak diterima umat manusia. Sayangnya, hal itu juga jadikan ‘modus’ baru untuk beberapa aktor tindak kejahatan untuk hindari endusan aparat penegakan hukum.

Virtual Currency jadi satu bidang tehnologi yang mempunyai ancaman sendiri. Ambil pengalaman masalah pembelian 9 butir ekstasi lewat Bitcoin oleh seseorang mahasiswa Kampus Diponegoro berinisial CPS, virtual currency dinilai pantas jadi atensi aparat penegak hukum.

Ketua Himpunan Pemerhati Hukum Siber Indonesia (HPHSI) Galang Prayogo menilainya, perkembangan tehnologi yang tengah ‘menggempur’ Indonesia mesti jadikan tantangan untuk aparat penegak hukum untuk memutakhirkan penyelidikan ataupun penyidikan.

“Intinya tentang masalah narkoba di Semarang dengan Bitcoin ini. Masalah itu adalah sampel kecil dari taraf yang semakin besar sekali lagi dari peranan Bitcoin digunakan oleh aktor kriminil atau gembong narkoba, “kata Galang dalam info tertulisnya, Jumat, 6 Maret 2018.

Menurut Galang, praktek pembelian narkoba lewat Bitcoin yang berlangsung di Semarang dapat jadi pintu gerbang untuk beberapa penegak hukum untuk mengerti lebih dalam tentang virtual currency. “Karena bila ‘partai kecil’ saja telah memakai Bitcoin, terlebih yang partai besar? ”ujarnya.

Menurut Galang, Indonesia yang sekarang ini masuk dalam kelompok darurat narkoba mesti memberi atensi lebih pada transaksi lewat Bitcoin. “Bagi beberapa gembong narkoba, Bitcoin jadi ladang usaha. Transaksi lebih aman, jadi mereka dapat membanderol harga lebih murah, ”tuturnya.

“Toh, pengiriman narkoba dari negara aslinya ke Indonesia jadi mahal karena ‘biaya resikonya’, bukanlah sekali lagi hitung-hitungan produksi. Itu mengapa narkoba lewat Bitcoin dapat jadi lebih murah. Resiko terendus aliran uang dari ‘bandar yang mana’ begitu kecil peluangnya untuk dapat di ketahui, ”Galang memberikan.

Hal tersebut pasti menimbulkan kecemasan sendiri. Galang mengharapkan pemerintah dapat menegakkan ketentuan yang lebih tegas tentang Bitcoin. Tidak cuma dilarang jadi alat pembayaran di Indonesia, tetapi juga membuat satu ketentuan yang memantau beberapa aplikator, dengan kata lain penyedia layanan penukaran Bitcoin.

Harus Waspada Modus Baru Transaksi Narkoba Via Bitcoin

Karena di Indonesia ini, tiap-tiap perkembangan tehnologi masuk, setiap saat itu juga evolusi kejahatan lebih cepat. Peranan negatifnya senantiasa paling depan dari pada dampak positif yang muncul. Ini mesti jadi catatan pemerintah serta beberapa aparat penegak hukum, ”ucapnya.

Dikabarkan terlebih dulu, seseorang mahasiswa Fakultas Pengetahuan Kelautan Kampus Diponegoro (Undip) Semarang bernama Candika Pratama (22), dibekuk deretan BNNP Jawa Tengah.

Mahasiswa semester akhir itu dibekuk aparat selesai dianya beli ekstasi dari Belanda dengan memakai mata uang digital, Bitcoin. Pernyataan Candika, ia beli 9 butir ekstasi berwarna hijau dengan harga Rp800 ribu. Walau sebenarnya, harga market ekstasi sama bila memakai yang umum seharga Rp 400 ribu per butir.

Membeli memakai Bitcoin itu jatuhnya lebih murah. Saya beli sembilan butir cuma Rp 800 ribu. Walau sebenarnya umumnya per butirnya dihitung Rp400 ribu. Sampai tertangkap petugas, saya baru transaksi sejumlah 2x, ”kata Candika.